Jumat, 08 September 2017

My Golden Life Ep 2 Part 1

Sebelumnya...


Di episode ini, dibuka dengan flashback ketika Nyonya No baru saja siuman setelah mengalami kecelakaan. Begitu sadar, dia pun langsung ditanyai soal Eun Seok oleh Presdir Choi.


Setelah itu, kita melihat Presdir Choi dan Nyonya No sudah berada di ruangan Kepala Polisi. Kepala polisi menyerahkan butiran payet dari jepitannya Eun Seok dan berkata, seseorang menjual jepitan rambut itu sehari setelah Eun Seok menghilang. Sontak saja, Presdir Choi dan Nyonya No kaget.

Flashback end…


Nyonya No jatuh pingsan setelah melihat foto jepit rambut Eun Seok yang dikirim oleh seseorang.


Sementara itu, Ji An mengomentari pakaian yang digunakan Ji Soo terlalu girly. Menurutnya, si Mr. Sun bisa langsung tahu tujuan kedatangan Ji Soo kalau baju Ji Soo girly seperti itu. Ji Soo pun langsung menukar pakaiannya.


Ji An lantas menghadap ke cermin. Ia mendesah tegang karena hari itu adalah hari dimana ia akan diangkat menjadi pegawai tetap atau tidak. Ji Soo pun menyemangati eonni nya dengan mengatakan bahwa posisi itu sudah menjadi milik sang kakak seperti yang dikatakan sang kakak sebelumnya. Ji Soo kemudian bertanya, apa Ji An gugup?

“Sedikit.” Jawab Ji An.

“Aku juga. Ini hari besar bagi kita berdua. Bagaimana jika dia menolakku?” ucap Ji Soo.

“Kau yakin dia akan datang ke acara pembukaan?” tanya Ji An.

“Tentu saja. Dia mengurus dekorasinya. Aku juga sudah menanyai pekerja konstruksi. Dia akan datang.” jawab Ji Soo.
“Semoga berhasil. Pastikan kau tidak terdengar gugup.” Ucap Ji An.


Ji An lantas menawarkan dirinya berpura2 menjadi Mr. Sun dan menyuruh Ji Soo latihan agar tidak gugup saat menyatakan perasaan pada Mr. Sun. Ji Soo pun tertawa saat sang kakak menirukan suara Mr. Sun nya.


Nyonya Yang heran sendiri melihat suaminya memasukkan satu kemeja lagi ke dalam tas, padahal Tuan Seo sudah memasukkan 3 kemeja. Nyonya Yang kemudian menanyakan seragam Tuan Seo. Tuan Seo gugup, ia berkata seragamnya sudah ada di kantor cabangnya di Daejeon.

“Jangan membuat dirimu menderita karena membantu urusan orang lain. Kau tidak lagi muda.” Ucap Nyonya Yang.


Nyonya Yang lalu menyuruh suaminya meminta saran bisnis dari suami Hae Ja. Tapi Tuan Seo tidak mau karena ingin berusaha sendiri, tapi ia terlalu tua untuk itu. Nyonya Yang bilang, usia Tuan Seo tidak menjadi masalah, yang harus mereka pikirkan adalah usia anak2 mereka.

“Kita harus membantu saat mereka akan menikah. Orang-orang bilang zaman sekarang sudah berbeda. Tapi kebanyakan pria masih harus menyiapkan tempat tinggal.” Ucap Nyonya Yang.

Tuan Seo pun membenarkan perkataan istrinya.

“Putra kita dua.” Ucap Nyonya Yang.

“Ji Ho masih muda dan Ji Tae sudah bekerja selama beberapa tahun. Mungkin dia tidak akan membutuhkan bantuan kita.” jawab Tuan Seo.

Pembicaraan itu pun akhirnya terhenti karena Ji Soo membuka pintu kamar mereka dan mengajak sang ayah berangkat bersama.


Mereka berlima pun jalan bersama. Tuan Seo minta maaf pada Ji An karena dirinya tidak akan ada di rumah saat Ji An diterima sebagai pegawai tetap. Ji Ho menyuruh ayahnya untuk tidak berharap terlalu tinggi. Ji Soo pun langsung menggeplak punggung Ji Ho.

“Hei, kami yakin karena ini Kak Ji An. Aku yakin kali ini dia akan mendapatkannya. Dia tidak sepertimu.” Jawab Ji Soo.

“Ji Soo benar. Berjanjilah kau akan belajar dengan giat. Kau harus lolos ujian masuk universitas.” Ucap Tuan Seo pada Ji Ho.


Ji Ho pun berjanji akan memberikan hasil yang bagus. Setelah itu, Ji Ho menjulurkan lidahnya ke arah Ji Soo. Ji Soo yang kesal pun langsung mengejar Ji Ho. Ji An menyusul mereka karena takut mereka bertengkar.


Tinggal lah Tuan Seo berdua dengan si sulung. Tuan Seo menanyakan pacar Ji Tae. Ji Tae mengaku dirinya terlalu sibuk sampai tidak sempat  untuk pacaran. Tuan Seo pun cemas, bagaimana Ji Tae bisa menikah kalau tidak punya pacar.

“Aku belum punya rencana. Zaman sekarang, orang-orang tidak menikah di usia dini.” Jawab Ji Tae.

Tuan Seo pun tersenyum miris. Tak lama kemudian, Ji Soo berteriak memanggil sang ayah karena bis sudah datang.


Setelah ayahnya pergi, wajah Ji Tae yang tadinya datar saat bicara dengan sang ayah, langsung berseri-seri setelah menerima SMS dari pacarnya.


Tuan Seo diantarkan keempat anaknya sampai ke bis. Tuan Seo tersenyum dan melambaikan tangan pada anak-anaknya. Setelah bis berjalan, Tuan Seo pun menghela napas karena sadar dirinya akan berpisah dari anak-anak selama beberapa hari.


Ji An langsung minta maaf soal kecelakaan kemarin pada boss nya. Tapi boss nya tidak terlalu mempermasalahkan masalah itu dan menyuruh Ji An untuk focus mengganti kerusakan mobil orang lain.


Setelah itu, Ji An menyerahkan proposal ultah perusahaan pada seniornya. Seniornya pun berkata, pegawai kontrak tidak perlu menyerahkan proposal itu karena itu hanya untuk pegawai tetap. Ji An pun langsung kecewa, tapi tak lama proposalnya diterima karena seniornya yakin Ji An akan menjadi pegawai tetap besoknya.

Ji An pun tersenyum senang, namun tidak dengan yang lain yang menatap Ji An dengan tatapan iri.


Ji Soo mengintip ke dalam toko roti. Tak lama kemudian, ia dikejutkan dengan kedatangan Nam Goo yang tiba-tiba sudah nongol di sebelahnya. Dengan tampang sok gak peduli, Nam Goo pun mengizinkan Ji Soo bekerja di toko rotinya dengan syarat Ji Soo tidak boleh belajar cara memanggang. Ji Soo pun terkejut.

“Rotiku tidak murah. Aku juga merasa kasihan kepada orang tuamu karena menerima uang hasil mengantar makanan darimu. Tampaknya kini kau juga sudah berhenti bekerja di salon.” Ucap Nam Goo.

Ji Soo langsung senang.


Tuan Choi baru saja mendapat laporan dari Manajer Heo soal proposalnya untuk memperluas bisnis restoran Korea ke Vietnam belum disetujui Presdir No. Tuan Choi pun langsung kesal. Tak lama, ponselnya berdering. Seketaris Min ingin tahu kapan Tuan Choi akan datang menjenguk Nyonya No. Tapi Tuan Choi malah menyuruh Seketaris Min membawa Nyonya No pulang tanpa berniat menjenguknya.


Nyonya No yang baru sadar, langsung kecewa menyadari suaminya tidak akan datang menjenguknya. Tapi ia berusaha memaklumi sikap suaminya itu.

Nyonya No lantas menyuruh Seketaris Min melakukan tes DNA. Ia bilang, empat hari harus selesai dan tidak boleh ada yang tahu.


Ji An memenuhi ajakan makan siang Woo Hyuk. Ji An terkejut mengetahui Woo Hyuk sudah memesankan makanan favoritnya, aglio e olio.

“Kita bisa berbincang sembari makan. Pegawai kantor biasanya merasa lapar jam segini.” Ucap Woo Hyuk.

“Bingo.” Jawab Ji An, lalu mulai menyantap spaghetti nya.


Woo Hyuk lalu menanyakan kapan Ji An kembali ke Seoul. Ji An pun menyuruh Woo Hyuk cerita lebih dulu karena ia mau makan.

“Aku menjalani hidup yang menyenangkan. Aku mempelajari desain interior seperti janji kita.” ucap Woo Hyuk.


Woo Hyuk lantas menunjukkan artikel dirinya sebagai mahasiswa pebisnis yang sukses. Ji An kaget tahu Woo Hyuk memulai bisnis saat masih kuliah. Woo Hyuk juga mengaku kalau bisnis online nya berjalan lancar.


Do Kyung memanggil Seketaris Yoo ke ruangannya. Ia menyuruh Seketaris Yoo menjual mobilnya. Do Kyung juga menyuruh Seketaris Yoo meminta 500 dollar jika ada yang menghubungi Seketaris Yoo soal mobilnya.

“Hanya 500 dolar? Itu tidak cukup untuk mereparasi.” Ucap Seketaris Yoo.

“Aku hanya bermurah hati. Aku memberikan donasi tanpa tanda terima. Lagi pula, aku memang hendak mengganti mobilku. Aku tidak punya pilihan karena dia memohon kepadaku.” Ucap Do Kyung.


Woo Hyuk tersenyum melihat Ji An makan dengan lahap. Sambil mengunyah makanannya, Ji An bercerita kalau ayahnya bangkrut dan keluarganya punya banyak hutang, jadi ia tidak bisa kuliah seni.

“Kini kamu bekerja di mana?” tanya Woo Hyuk.

“Aku menjadi pegawai kontrak di tim pemasaran Perusahaan Haesung.” Jawab Ji An.

“Pegawai kontrak?” Woo Hyuk terkejut.


“Kontraknya habis hari ini. Hari ini aku menjadi pegawai tetap. Woo Hyuk, sejak lulus dari universitas, aku selalu bekerja menjadi pegawai magang dan kontrak. Bahkan aku bekerja sebagai pegawai paruh waktu. Hari ini, aku akan melupakan segalanya dan memulai lembaran baru.” Jawab Ji An.


Tak lama kemudian, Ji An dapat telepon dari seseorang yang bernama ‘Si Perajuk’. Ternyata si perajuk itu adalah Ji Soo. Ji Soo menelpon Ji An karena ingin memberitahu Ji An kalau ia diterima bekerja di toko roti.

“Kau ingin kakak memberimu selamat? Baiklah. Selamat.” Ucap Ji An.

“Aku juga akan menyatakan perasaanku hari ini.” jawab Ji Soo.

“Jika berjalan lancar, harimu sempurna. Semoga berhasil.” Ucap Ji An, lalu menutup teleponnya.


Woo Hyuk tidak menyangka Ji An punya adik. Ia pikir Ji An anak tunggal. Ji An pun bercerita, kalau ada pria yang sangat disukai adiknya dan adiknya berniat menembak pria itu. Woo Hyuk terkejut mendengarnya. Ji An juga berkata, pria itu menyelamatkan adiknya dari situasi memalukan.

Setelah itu, Ji An bertanya apa yang mau dibicarakan Woo Hyuk sampai2 Woo Hyuk mengajaknya makan siang. Woo Hyuk pun memberikan kartu namanya dan menyuruh Ji An datang ke sana seusai bekerja karena dia mau dapat ucapan selamat dari Ji An.


Boss Ji An dipanggil Kepala Manager Tim. Ji An tak dapat menutupi ketegangannya. Tak lama, boss nya datang memperkenalkan Ha Jung sebagai anggota tim yang baru. Bukan hanya Ji An yang kaget, tapi yang lainnya juga. Boss Ji An memberitahu Ha Jung masuk ke perusahaan mereka melalui program khusus.

“Aku menghargai kerja keras kalian selama dua tahun ini. Aku merasa tidak enak kepada kalian. Tapi ini keputusan perusahaan. Kuharap kalian mengerti.” Ucap boss Ji An.

Ji An makin ternganga, sementara Ha Jung menatap Ji An dengan tatapan remeh.


Ji An mengejar Ha Jung sampai keluar kantor. Ia ingin tahu kenapa Ha Jung tidak memberitahunya soal ini saat mereka bertemu kemarin. Ha Jung bilang, karena dia ingin melihat Ji An yang sebenarnya. Ji An tidak mengerti dan minta Ha Jung menjelaskan langsung ke intinya.

“Dahulu kita cukup dekat saat bertemu untuk tugas kelompok di universitas. Saat itu aku belum tahu, bahwa kau kesulitan dalam hal financial dengan semua biaya kuliah dan pekerjaan paruh waktu.” Jawab Ha Jung.

“Katakan saja alasanmu tidak memberitahuku bahwa kau akan bergabung saat kita bertemu kemarin.” Ucap Ji An.

“Menurutku ini menarik. Kau tidak pernah putus asa. Kau bahkan tidak mengeluh atau mengomel. Kupikir itu aneh.” Jawab Ha Jung.

“Sebenarnya apa maumu?” tanya Ji An.

“Aku tidak mengerti kenapa kau tidak iri kepadaku. Aku tidak perlu mencemaskan apa pun karena keluargaku kaya. Atau kau hanya berpura-pura tidak iri? Aku tidak tahan.” Jawab Ha Jung.

Ji An terkejut. apa?

“Aku tahu kau tidak baik-baik saja, tapi kau bersikap tenang. Aku tersinggung.” Jawab Ha Jung.

“Kenapa kau tersinggung?” tanya Ji An.


“Kau ingat perjalanan di tahun terakhir kita? Aku pergi ke luar negeri untuk program pertukaran mahasiswa. Kau cuti kuliah selama dua tahun. Jadi, kita berdua terlambat lulus dua tahun. Saat kubilang aku akan membiayai perjalanan itu, kau menolaknya. Saat kubilang itu tidak masalah, kau malah bertanya apa aku sudah menghasilkan uang sendiri. Kau mengatakannya sambil tersenyum.” Jawab Ha Jung.

“Hanya karena aku tidak meminta bantuanmu dan tidak berusaha mendapatkan bantuan darimu, kau kesal?” tanya Ji An syok.

“Kau tahu kenapa orang mencari uang? Mereka mencari uang untuk memamerkan kekayaan mereka. Untuk bisa makan lebih enak dan hidup lebih baik. Karena itulah orang-orang ingin menjadi kaya. Bukankah itu alasanmu berusaha keras untuk bekerja di perusahaan besar meski tidak memenuhi kualifikasi? Sikapmu memancing rasa penasaranku. Karena itulah aku tidak memberitahumu. Kupikir akhirnya aku bisa melihat sisi dirimu yang sebenarnya. Ekspresi wajahmu sekarang.” ucap Ha Jung.

“Ekspresi wajahku?” tanya Ji An.

“Kau minder. Kau minder karena aku. Aku tidak memberitahumu karena ingin melihat ekspresi ini. Aku tidak bermaksud buruk. Tidak akan ada yang berubah meski aku memberitahumu.” Ucap Ha Jung.


“Kau jahat sekali. Pikirmu itu bisa dijadikan alasan? Untuk apa aku mengemis kepada orang kaya? Jika aku melakukannya, akankah kau memberikan posisimu kepadaku? Itu yang akan kamu lakukan? Aku harus bersedih agar kau senang?” jawab Ji An.

“Jika kau tampak sedih, aku akan mundur demi kamu.” ucap Ha Jung.

“Yoon Ha Jung.”

“Kenapa? Kau akan memohon? Kini kau ingin aku mengembalikan posisi itu kepadamu?” tanya Ha Jung.

“Pikirmu aku akan memohon kepadamu jika kau melakukan ini? Pikirmu aku akan diam saja dan memperhatikan? Pikirmu aku akan pulang dan menangis diam-diam?” ucap Ji An.

“Aku siap ditampar.” Jawab Ha Jung.


Ji An pun langsung menonjok Ha Jung sampai Ha Jung jatuh. Tak hanya sekali, tapi dua kali sampai bibir Ha Jung berdarah. Ha Jung marah dan membalas Ji An. Mereka pun berkelahi di depan kantor. Do Kyung yang melihat itu dari dalam langsung menyuruh bawahannya memanggil polisi.


Sekarang, keduanya duduk di kantor polisi dengan wajah babak belur. Ji An menolak untuk damai. Ia berencana menuntut Ha Jung. Tak hanya itu, ia juga mengancam Ha Jung akan menuliskan semua perbuatan jahat Ha Jung di situs resmi sekolah mereka dulu.

Ha Jung mulai takut, tapi Ji An tidak peduli. Tiba2, Nyonya Yang menghubungi Ji An, tapi Ji An mematikan ponselnya.

Tak lama kemudian, ayah Ha Jung datang dan menatap tajam ke arah Ji An.


Diluar kantor polisi, ayah Ha Jung minta maaf atas sikap kekanak-kanakan Ha Jung. Tak terima ayahnya minta maaf, Ha Jung pun mengompori ayahnya dengan berkata giginya sakit tapi ia malah kena marah.

“Ha Jung memang salah, tapi kau juga keterlaluan.” Jawab ayah Ha Jung.

Mendengar itu, Ji An jadi inget pas dia mukulin temen Ji Soo yang malakin Ji Soo saat mereka sekolah dulu sampai2 sang ayah harus datang ke sekolah untuk meminta maaf.


Ji An yang kesal karena disuruh minta maaf sama org yg malakin adiknya pun tidak mau pulang sama ayahnya dan milih jalan kaki. Terpaksa lah, sang ayah turun dari mobil dan menemani Ji An berjalan. Tak lama, Ji Soo juga ikut2an turun dari mobil. Ayah menasehati Ji An, kalau menggunakan kekerasan itu tidak baik. Tapi sang ayah juga memuji tindakan Ji An yang memberi pelajaran pada temen Ji Soo yang memalak Ji Soo itu. Setelah itu, Tuan Seo mengajak kedua putrinya makan.  Ji Soo pun memberitahu ayah kalau Ji An menginginkan satu set pisau bergagang kayu. Tuan Seo pun berjanji akan membelikannya setelah makan siang. Ji An juga minta dibelikan sepatu olahraga. Tuan Seo mengajak mereka berbelanja sehabis makan siang. Ji An pun langsung sumringah.

Flashback end…

Ayah Ha Jung minta maaf soal kelakuan Ha Jung. Ji An juga minta maaf sudah memukuli Ha Jung. Ayah Ha Jung pun berkata, beginilah hidup di dunia.


Ji An akhirnya menangis, memanggil2 sang ayah, setelah melihat Ha Jung pulang bersama sang ayah.


Tuan Seo sepertinya ngerasain sesuatu terjadi pada Ji An. Ia menatap layar ponselnya, tapi gak ada panggilan dari Ji An. Ia pun menghubungi istrinya, tapi gak diangkat.


Ji An termenung di halte sampai2 tidak mendengar suara ponselnya. Saat melihat layar ponselnya, ia menyadari ada 12 panggilan dari ayah, ibu, Ji Soo dan Woo Hyuk. Cobaan Ji An makin bertambah karena ia lupa bawa dompet. Saat sedang membenahi pakaiannya, ia makin sedih melihat tanda pengenal yang tergantung di lehernya.


Sementara itu, Ji Soo yang mau  nembak Woo Hyuk malah diabaikan Woo Hyuk.


Ji An memakai masker untuk menutupi luka lebam di wajahnya. Ia berjalan menyusuri jalanan sampai hari gelap dan teringat kata2 seniornya kalau mereka tidak pernah menyuruh Ji An ini itu karena Ji An pegawai kontrak. Mereka hanya berusaha mengajari Ji An karena Ji An akan menjadi bagian dari mereka.


Tuan Choi pulang dan menanyakan kabar istrinya. Nyonya No kesal karena Tuan Choi tidak mengkhawatirkan dirinya sama sekali. Tuan Choi beralasan karena ia sudah tahu dari dokter kalau Nyonya No terkena anemia.

“Kenapa kau tidak pernah mengungkit Eun Seok? Kenapa kau tidak pernah mengungkitnya selama 20 tahun ini?” tanya Nyonya No.

“Karena kau sudah berhenti. Kau berhenti mencarinya setelah lima tahun dan tidak pernah mengungkitnya selama 20 tahun.” Jawab Tuan Choi.

Tak lama kemudian, Do Kyung datang untuk melihat ibunya. Do Kyung juga menawarkan ibunya liburan ke Hawaii karena Bulan Agustus sudah mau habis, tapi sang ibu menolak dengan alasan ada urusan yang mau dia selesaikan.


Tuan Choi itu bukan Presdir Haesung toh, tapi wakil pimpinan. Oke mulai sekarang sy manggil dia Tuan Choi aja ya, bukan Presdir Choi lagi..

Sy makin penasaran kenapa Tuan Choi begitu dingin ke istrinya. Tuan Choi tadi juga kesel banget pas tau proposalnya gak di approved CEO No. Biar sy tebak, kayaknya Tuan Choi dan Nyonya No ini dijodohkan. Tapi yg sy bingungin, Tuan Choi ini kenapa gak suka banget sama CEO No yg notabene nya ayah mertuanya?

Ji An kasihan banget… gk nyangka Ha Jung bisa setega itu sama dia… ngerebut posisinya cuma karena pengen liat ekspresi putus asa Ji An… tapi sy suka flashback nya Ji An pas dia mukulin yg malakin adiknya. Sy suka liat kedekatan Ji An dengan ayahnya. Ngomong2, acting Shin Hye Sun pas nangis manggil ayahnya itu bagus banget.

Dan Ji Tae, sumpah ni orang misterius banget. Ngomong ama keluarganya, mukanya malah dingin banget. Ditanya ayahnya soal pacar, dia bohong ngaku gak punya pacar. Tapi begitu dapat sms dari pacarnya, dia girang bukan main.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar