The Legend Of The Blue Sea Ep 15 Part 2

Sebelumnya...


Sikap Jin Joo ke Yoo Ran mulai berubah. Ia bahkan tak mengizinkan Yoo Ran melakukan pekerjaan rumah tangga lagi.

“Nyonya, aku sungguh minta maaf untuk hari ini.Aku menyadari kalau Nyonya masih belum menemukan orang baru tapi aku akan keluar setelah makan malam hari ini.” ucap Yoo Ran.

“Eonni.”panggil Jin Joo, membuat Yoo Ran terkejut setengah mati.

“Kau adalah kakak entah dilihat dari umur atau apapun. Ini tidak seperti aku punya kakak kandung, dan mulai sekarang, aku akan menganggapmu sebagai kakak kandungku.”ucap Jin Joo lagi.

Yoo Ran merasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu.


“Kau tidak harus bekerja. Itu benar. Bagaimanapun, kalau kau pergi dari sini, itu tidak seperti kau punya tempat yang nyaman untuk pergi,jadi berpura-pura saja seperti ini rumah adik kandungmu,dan tinggallah dengan nyaman. Ini adalah apa yang aku harapkan.” Ucap Jin Joo.
“Bagaimana bisa?” tanya Yoo Ran.

“Eonni! Aku benar-benar berpikir aku sedang menonton...drama sejarah yang bagus. Kau  adalah Ratu In Hyeon dan Kang Seo Hee, wanita itu, Ratu dari keluarga Jang (Jang Hee Bin - wanita penggoda kerajaan). Bagaimanapun, hal yang penting adalah Ratu In Hyeon akhirnya kembali ke tempatnya. Aku, Ahn Jin Joo, akan membantumu dengan itu. Kembalinya dengan cemerlang ke posisi Ratu.” Jawab Jin Joo.

“Aku tidak punya niat melakukan itu.” ucap Yoo Ran.

“Tidak, tidak. Eonni, walau kau tidak punya niat, kau seharusnya melakukan itu, setidaknya untukku. Apapun yang mungkin terjadi, aku akan membantumu Eonni. Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan statusmu.” Jawab Jin Joo.


Si A lagi baringan di kasurnya sambil membaca sesuatu. Tak lama, Jin Joo datang dan berkata kalau Si A sudah tahu semuanya, jadi karena itulah Si A bersikap hormat pada Yoo Ran belakangan ini.

“Apa maksudmu?” tanya Si A bingung.

“Kau tahu Ajumma kita adalah istri pertama CEO Heo Il Joong.” Jawab Jin Joo.

Si A terkejut, apa?

“Aku bahkan tidak bisa menghitung berapa kali aku menceritakan ini. Tapi tak peduli berapa kali aku mengulang ini, hatiku masih berdetak dengan kencang. Kau tahu ajumma kita awalnya istri Presdir Heo Il Joong! Tapi tanpa tahu itu, aku sudah memasok masakan Ajumma ke rumah itu! Bukankah itu begitu dramatis?” ucap Jin Joo.

Si A terkejut, kalau begitu, Joon Jae...

“Joon Jae? Kau kenal anak mereka?” tanya Jin Joo.

“Tidak juga. Bagaimana aku kenal? Itu hanya nama teman.” Jawab Si A.

“Tapi sungguh, anak itu kabur dari rumahnya,yang namanya pasti Heo Joon Jae. Beberapa saat lalu, Ajumma mengatakan sesuatu tentang Joon Jaeku atau apalah.” Ucap Jin Joo.


Si A pun mulai stress setelah tahu kenyataan itu. Saking stressnya, ia sampai menjambak rambutnya sendiri.


Tae Oh yang lagi asyik main game di lantai atas, menghela napasnya saat Si A menghubunginya. Tae Oh dengan malas2an menjawab panggilan Si A. Si A mengira kalau Tae Oh sedang menunggu teleponnya karena Tae Oh menjawab panggilannya begitu cepat.

“Tidak seperti itu, aku sedang bermain game...” jawab Tae Oh.

“Lupakan. Dengarkan aku tanpa lelah. Apakah kau akan menjemputku?” tanya Si A.

Tae Oh lantas melirik jamnya dan bertanya, sekarang?

“Apa kau sebahagia itu? Itu benar. Sekarang.” jawab Si A.

Tae Oh langsung mengambil jaketnya di kamar. Nam Doo yang lagi minum sendirian di dapur, melihat Tae Oh mau pergi. Tae Oh pun memberitahu kalau dirinya mau menjemput Si A di klub.

“Benarkah? Apa tempat itu dengan air yang bagus (suasana klub)? Ayo pergi bersama.”ucap Nam Doo.

Chung yang mendengar ucapan Nam Doo pun ikut2an bersemangat mau pergi. Tae Oh diam-diam senang Chung mau ikut.


Mereka bertiga pun pergi ke klub. Awalnya mereka dilarang masuk karena pakaian Chung yang dianggap tak memenuhi ketentuan.Namun begitu Chung membuka jaketnya dan memperlihatkan pakaian kerennya, mereka langsung diperbolehkan masuk. Tae Oh bahkan sampai melongo melihat pakaian mewah Chung.


Bukan cuma Tae Oh, tapi semua pengunjung klub juga melongo melihat penampilan Chung yang keren. Hanya Si A seorang yang tak suka dengan kehadiran Chung.


Setelah mengomeli Tae Oh yang tidak datang sendirian, Si A menenggak minumannya. Chung melarang Si A minum. Chung bilang terakhir kali ia melihat Joon Jae minum, Joon Jae menjadi sedikit manis.

“Tergantung orangnya. Kalau Cha Si Ah, dia selalu menelepon dan menangis,dan melarangmu dari menutup telepon sepanjang malam.” Ucap Nam Doo.


Si A kesal karena Nam Doo membeberkan kebiasaan buruknya. Ia langsung memelototi Nam Doo. Tapi Nam Doo dengan wajah tanpa dosa, kabur ke lantai dansa.


Joon Jae yang baru pulang, menghubungi Nam Doo karena tak ada orang di rumah. Nam Doo berkata, ia sedang di klub bersama Tae Oh dan Chung juga.

“Kenapa kau membawanya ke sana? Dia bilang dia pusing dan tidak menyukainya.” Protes Joon Jae.

“Apa yang kau bicarakan? Dia bergerak melewati ruang dengan luwesnya. Dia benar-benar merasa seperti di rumah di sini.” Jawab Nam Doo.

Joon Jae kaget, apa?!

Battle dance antara Chung dan Si A dimulai! Chung bergerak heboh, sementara Si A terus terdesak oleh Chung setiap kali ia bergerak maju.


Joon Jae akhirnya sampai di klub itu dan ia syok melihat Chung. Si A yang melihat Joon Jae dengan senang hati mendekati Joon Jae dan mengajak Joon Jae bersenang2. Joon Jae menolaknya dengan sopan dengan berkata kalau ia masih ada urusan dan menyuruh Si A bersenang-senang dengan Tae Oh dan Nam Doo.

Joon Jae pun mendekati Chung. Ia mengajak Chung pergi, tapi Chung menolaknya karena masih mau berdansa. Joon Jae akhirnya memeluk Chung dan menyeret Chung keluar. Si A dan Tae Oh menatap mereka dengan tatapan sakit hati.


Joon Jae dan Chung berteduh di depan sebuah pintu besar. Chung pun dengan wajah sedih berkata, kalau berjalan di tengah hujan adalah salah satu hal yang tak bisa ia lakukan bersama Joon Jae. Joon Jae berpikir sejenak. Setelah itu, ia menyuruh Chung menunggunya sebentar.

Joon Jae beranjak pergi menembus hujan. Tak lama, ia kembali membawa payung dan menenteng sepatu boat.

“Mulai sekarang, jangan katakan, kau tak bisa atau kau tidak mau. Aku akan membiarkanmu melakukan setiap hal yang dilakukan orang2 di sini tanpa terkecuali.” Ucap Joon Jae.


Joon Jae lantas berlutut dan memakaikan sepatu boat itu pada Chung. Setelah itu, keduanya berjalan bersama dengan bergandengan tangan dan Chung bersandar pada pundak Joon Jae.


Chung berteduh di minimarket bersama Yoo Na. Ia memberitahu Yoo Na kalau Joon Jae bisa mendengar suara hatinya. Yoo Na penasaran bagaimana bisa Joon Jae mendengar suara Chung.

“Aku tidak tahu. Bagaimana dia bisa mendengarku?” jawab Chung.

“Aku tidak tahu. Aku hanya mendengarnya juga.” ucap Yoo Na.

“Bagaimanapun juga, aku merasa bebanku berkurang karena sekarang Heo Joon Jae bisa mendengarku. Ini tidak seperti aku punya sesuatu untuk berbohong. Sekarang ini seperti aku bisa hidup dengan baik di sini. Normal, seperti orang lain.” Jawab Chung.

“Tapi apa kau tahu, menjalani hidupku, meskipun kelihatannya mudah, hal yang paling sulit adalah hidup normal dengan yang lainnya.” Ucap Yoo Na.
“Aku akan memastikan aku melakukan ini. Hidup bahagia sampai tua bersama-sama seperti yang lainnya dengan Heo Joon Jae.” Jawab Chung.


Tak lama, teman tunawisma Chung datang dan bergabung bersama mereka.

“Semua wanita-wanita di sana tampil dengan memegang tas mewah, kan?” tanya teman tunawisma Chung sambil menunjuk ke arah dua wanita yang berlari di tengah hujan menutupi kepala mereka dengan tas.

“Tapi perhatikan mereka dengan seksama. Mereka membawa tas mereka di atas kepala karena mereka tidak memiliki payung. Tas-tas itu adalah tiruan. Dan lihat wanita yang di belakang itu. Kau melihat dia membawa tasnya seperti itu beberapa tablet leluhur. Itu asli.”ucap si tunawisma.

“Bolehkah tiruan kena hujan? Tiruan tidak berbeda dari produk desainer yang asli, kan?” tanya Chung.

“Meskipun penampilan luar bisa sama, tapi ada satu hal yang tidak dapat ditipu.” Jawab si tunawisma.

“Apa itu?” tanya Chung.

“Hati pemilik tas. Kau tahu kau tidak bisa menipu pemilik. Mereka tahu bahwa tas mereka palsu itulah sebabnya mereka memegang tas mereka, seperti payung dan berlari ketika hujan.” Jawab si tunawisma.

“Tapi di antara pemilik tas, apakah tas itu asli atau palsu, mungkin ada seseorang yang akan menyukainya dan memperlakukannya dengan baik hanya karena itu milik mereka. Aku hanya mengatakan bahwa hal itu mungkin. Aku merasa seperti aku palsu di dunia ini, entah kenapa. Namun, aku merasa bahwa meskipun palsu, mungkin aku pantas untuk dicintai oleh seseorang.” jawab Chung.


Yoo Na pun menepuk2 pundak Chung untuk menghibur Chung.
“Kau mencoba mengatakan bahwa seseorang tidak harus membagi antara yang asli dan palsu dengan penampilan luar, kan?

Chung mengangguk. Si tunawisma pun memuji kepintaran Yoo Na.

“Terima kasih, kalian berdua. Aku akan mencoba semua hal-hal yang orang lain biasanya lakukan. Berbicara tentang itu, besok adalah pesta ulang tahunku.” Ucap Chung.

“Apakah kamu merayakan ulang tahun kalender masehi atau lunar?” tanya si tunawisma.

“Aku tidak tahu. Sejujurnya, aku tidak tahu kapan ulang tahunku, jadi aku memutuskan untuk membuatnya besok saja. Besok tanggal berapa, sih?” ucap Chung.

“5 Januari. Itu tanggal ringkas. Bagus.” Jawab si tunawisma.

“Dimana pestanya?” tanya Yoo Na.

“Di rumahku.” Jawab Chung.

Istri Sopir Nam terpaksa meninggalkan Sopir Nam sendirian untuk pulang ke rumah sebentar. Setelah ia pergi, seseorang menyelinap ke kamar Sopir Nam. Sopir Nam membuka matanya dan melihat Chi Hyun yang tersenyum ke arahnya. Ia berkata bahwa dirinya melihat Joon Jae berbicara dengan Sopir Nam waktu itu, jadi ia mau Sopir Nam menjawab pertanyaannya juga.

“Jika Ma Dae Young membuatmu seperti ini, kenapa dia melakukannya? Apakah orang yang kau pikir berhubungan dengan Ma Dae Young adalah ibuku?” tanyanya.


Sopir Nam tidak berkedip tapi nampak ketakutan. Chi Hyun tersenyum evil dan berkata kalau ia sudah menduganya. Chi Hyun lalu melihat ke arah grafik jantung Sopir Nam.

“Ibu tampaknya merasa lega karena kau berbaring seperti ini, tanpa bisa mengatakan sepatah kata pun. Tapi masalahnya bukan itu, tapi pikiranmu. Sesuatu yang bisa mengkhianati kami kapanpun.”ucap Chi Hyun.

Chi Hyun lalu bangkit dan melepas selang oksigen Sopir Nam dengan kasar. Sopir Nam kejang2 seketika.


Istri Sopir Nam sudah tiba kembali di rumah sakit. Ia baru keluar dari lift. Ponselnya berdering. Istri Sopir Nam menarik napas lega karena Yoo Ran lah yang menghubunginya. Yoo Ran menanyakan tentang Joon Jae yang tidak sekolah di luar negeri dan kabur dari rumah. Istri Sopir Nam meminta maaf karena sudah berbohong. Yoo Ran tidak marah, tapi bertanya apa istri Sopir Nam tahu apa yang dilakukan Joon Jae.

“Beberapa waktu yang lalu, suamiku mengalami sebuah kecelakaan besar dan terbaring di rumah sakit dan Joon Jae kadang-kadang datang menjenguk.” Jawab istri Sopir Nam.

“Nomor teleponnya... Bisakah kau berikan padaku?” pinta Yoo Ran.

“Tentu. Nyonya, aku tidak bisa membaca huruf kecil. Aku akan segera pergi ke atas dan mendapatkan kacamataku, jadi aku bisa membacanya untukmu. Jangan ditutup dan tunggu.” Jawab istri Sopir Nam, lalu berlari ke atas.


Alarm mesin pendeteksi jantung di kamar Sopir Nam berbunyi keras. Chi Hyun panik dan tidak tahu bagaimana menghentikan bunyinya.Seseorang tiba2 menariknya keluar dari kamar itu. Siapa dia? Dia, Ma Dae Young.


Istri Sopir Nam yang baru tiba di lantai atas terkejut melihat perawat dan dokter berlarian ke kamar suaminya. Ia berteriak histeris dan langsung menuju kamar suaminya.


Dokter berkata, Sopir Nam kehilangan kesadaran. Detak jantungnya berhenti dan ia tak bernapas. Dokter ingin melakukan CPR. Tak lama, istri Sopir Nam datang dan berteriak histeris melihat kondisi suaminya.


Dalam keadaan seperti itu, Sopir Nam melihat kehidupan masa lalunya dimana ia menjanjikan sesuatu pada Dam Ryung. Dam Ryung berkata, kalau mereka nantinya akan bertemu lagi sebagai teman baik. Dan benar saja, di kehidupan berikutnya ia menjadi teman baik Joon Jae.


Lalu ia kembali melihat kehidupan masa lalunya setelah kematian Dam Ryung. Ia menyelinap masuk ke sebuah kamar dan membuka papan di dinding yang menyembunyikan rak buku.Seseorang datang dan ia cepat2 bersembunyi di dalam ruang rak buku itu dan mengintip orang yang menyelinap memakan cincin logam.


Dokter terus melakukan CPR. Istri Sopir Nam berteriak-teriak histeris. Ponselnya jatuh dan tak lama ia jatuh pingsan.


Dae Young membawa Chi Hyun pergi. Chi Hyun ingin tahu siapa Dae Young, tapi Dae Young malah berkata alarm akan berbunyi jika Chi Hyun memutus aliran udara seperti itu. Dae Young bilang, untung saat itu sedang pergantian shift jadi tak ada yang melihat Chi Hyun.

“Bukankah kau buronan? Kenapa kau mengemudikan mobil ayahku?” tanya Chi Hyun.

“Mulai sekarang, jangan ambil inisiatif dalam melakukan hal apapun. Pikirkan saja mengapa ibumu dengan diam-diam bersembunyi dan mengawasi. Pikirkan saja tentang itu.” jawab Dae Young.

“Jangan bicara omong kosong! Aku bertanya kenapa orang yang berbahaya sepertimu berada di sekitar ibuku dan aku?!” teriak Chi Hyun.

“Dengarkan aku baik-baik. Kau hanya perlu diam dan ambil keuntungan dari yang orang lain lakukan untukmu. Jangan membalikkan meja yang sudah diatur. Apa kau mengerti?” jawab Dae Young.


Yoo Ran terus menanti telepon dari istri Sopir Nam. Tak lama kemudian, ponselnya akhirnya berbunyi namun ia kecewa karena yang menelponnya adalah Chung. Chung mengundang Yoo Ran untuk hadir di pesta ultahnya besok. Yoo Ran meminta maaf dan berkata kalau ia tak bisa pergi.

“Tidak masalah. Aku tidak benar-benar tahu kapan ulang tahunku jadi aku memutuskannya hari ini kalau besok akan menjadi hari ulang tahunku.” Jawab Chung.

“Kalau begitu kau belum pernah mengadakan pesta ulang tahun sejak kau dilahirkan?” tanya Yoo Ran.

“Ya. Ini pertama kalinya.” jawab Chung.

“Orang tuamu masih hidup?” tanya Yoo Ran.

“Tidak.” Jawab Chung.

“Aku akan datang. Kemana aku harus pergi besok?” ucap Yoo Ran.


Esoknya, Chung sibuk mempersiapkan pestanya. Ia memesan banyak makanan untuk dikirim ke rumah. Chung meletakkan topi ultah di atas kepala Nam Doo, Yoo Na dan Tae Oh. Nam Doo sendiri sedang berbicara dengan Joon Jae mengenai kehebohan Chung itu.Joon Jae tertawa dan ia berkata akan segera ke sana.

Usai bicara dengan Nam Doo, Joon Jae membeli buket bunga yang indah untuk Chung.


Nam Doo membukakan pintu untuk tamu berikutnya. Dan ia terkejut melihat si tunawisma yang datang. Chung berkata, si tunawisma adalah temannya. Si tunawisma menyerahkan bungkusan plastic pada Nam Doo.

“Apa ini? Ini makanan sisa?” tanya Nam Doo.

“Ayolah, apa yang kau bicarakan tentang sisa makanan? Ini mackerel karena nyonya rumah mengatakan dia suka itu.”jawab si tunawisma.


Saat si tunawisma mau duduk di sofa, Nam Doo cepat2 menyelipkan bantal agar tak mengotori sofanya.Si tunawisma lantas menggaruk kakinya, lalu mencomot makanan di meja dan tersenyum pada Yoo Na.

Nam Doo heran melihat teman2 Chung itu.

Nam Doo lantas menyajikan salad dan sup tapi tunawisma berkata ia tak biasa makan makanan mentah

"Aku biasanya tidak makan makanan mentah karena aku sudah terbiasa dengan hanya makan makanan yang dimasak, lalu mengomentari ada bahan yang kurang dalam sup itu."

“Jadi apa kau tidak mau memakannya?” tanya Nam Doo yang mulai kesal.

“Tentu saja, aku harus memakannya. Ini masih pesta. Aku tidak boleh merusak suasana.” Jawab si tunawisma.


Chung menjemput Yoo Ran yang baru turun dari bus. Yoo Ran membawa makanan yang biasa ia masakkan untuk Joon Jae setiap Joon Jae ulang tahun. Chung pun berkata bahwa ia merasa seperti dilahirkan kembali setelah memutuskan hari ini adalah hari ultahnya.

“Aku mencoba untuk mengatur hidupku dan meninggalkan rumah yang aku tinggali. Aku bersembunyi selama ini. Sekarang, aku akan menemukan orang yang aku ingin cari, mengatakan apapun yang aku ingin katakan... Aku ingin hidup seperti itu.” ucap Yoo Ran.

Keduanya lalu berjalan bersama.


Joon Jae lalu melihat Chung dari seberang jalan. Namun ia tak melihat Yoo Ran karena tertutup oleh Chung. Joon Jae pun tersenyum melihat kekasihnya itu tersenyum bahagia.


Akhirnya mereka berhenti untuk menyebrang. Chung langsung melambaikan tangan pada Joon Jae begitu melihat Joon Jae. Yoo Ran bertanya siapa itu. Chung bilang itu pacarnya, lalu meneriakkan nama Joon Jae. Yoo Ran pun terkejut. Sementara di seberang sana, Joon Jae protes karena Chung meneriakkan namanya keras2.
“Nama pacarmu Heo Joon Jae?” tanya Yoo Ran.

“Ya. Dia sangat tampan. Ibu Heo Joon Jae mengatakan bahwa saat dia masih kecil, ketika ia dibawa keluar, akan sulit berjalan sejauh sepuluh langkah karena orang2 selalu ingin menyentuh dan menggendongnya.” Jawab Chung.


Yoo Ran pun langsung menatap Joon Jae dengan penuh kerinduan.Melihat ekspresi Yoo Ran, Chung pun bertanya ada apa.

“Anakku punya nama yang sama. Heo Joon Jae. Kami terpisah saat dia kecil. Aku tidak bertemu dia untuk waktu yang lama.” Jawab Yoo Ran.

“Menara Hercules?” tanya Chung, lalu menceritakan apa yang diceritakan Joon Jae tentang Menara Hercules pada Yoo Ran.


Yoo Ran hampir terjatuh, dan Chung pun cepat2 memeganginya. Chung lalu melihat ke arah Joon Jae dan berkata dalam hatinya kalau legenda itu benar.

“Orang-orang yang terpisah itu pasti akan bertemu lagi. Bahwa mereka bertemu lagi dan saling mencintai. Selamat. Kau bertemu ibumu sekarang.” Ucap Chung.


Joon Jae pun terpana dan terus menatap wanita paru baya yang bersama Chung. Tak lama, lampu hijau menyala, tanda untuk menyebrang.

Joon Jae pun melangkahkan kakinya menuju Yoo Ran. Yoo Ran juga melakukan hal yang sama.

0 Comments:

Post a Comment